Judi Bola

Cerita Seks Mengajari Anak Kandung Sendiri

2721 views
Casino Uang Asli

Sedarah – Siang itu, aku mendengar Irvan pulang sekolah dan dirinya minta makan. Kami sama-sama makan siang di meja makan. Usai makan siang, kami sama-sama membawa piring kotor dan sama-sama mencucinya di dapur. Irvan menceritakan guru barunya yang sangat disiplin dan terasa agak kejam.

Aku mendengarkan semua keluhan dan cerita anakku. Itu kebiasaanku, hingga akhirnya aku wajib mengenal siapa Irvan. Aku juga mulai menanyakan siapa pacarnya dan sempat berangkat ke tempat pelacuran alias tidak.

Sebetulnya aku tahu Irvan tidak sempat pacaran dan tidak sempat kepelacuran dari diary-nya. Kami sama-sama menyusun piring dan melap piring hingga ke ring ke rak-nya, sembari kami terus bercerita. “Ma…besok Irvan diajak kawan mendaki gunung…boleh engak, Ma?” tanya Irvan meminta izinku sembari tangannya memasuku tahap atas dasterku dan mengelus pentil toket ku. “Nanti kalau telah SMA saja ya sayang…” kataku sembari mengelus penis Irvan. “Berarti tahun depan dong, Ma,” katanya sembari mengjilati leherku.

“Oh… iya sayang. Tahun depan” kataku pula sembari membelai penisnya dan melepas kancing celana biru sekolahnya dan melepas semua pakaiannya hingga Irvan telanjang bulat. “Kalau mami bilang gak boleh ya udah. Irvan gak ikut,” katanya sembari melepaskan pula kancing dasterku hingga aku telanjang bulat.

Ya.. kami terus bercerita mengenai sekolah Irvan dan kami telah bertelanjang bulat bersama. “Sesekali kami wisata ke puncak yuk ma…” kata Irvan sembari menjilati leherku dan mengelus pentil toket ku. Aku duduk di kursi taman dan Irvan berdiri di belakangku. Uh… anakku telah sangatlah dewasa.

Dia ingin sekali bermesraan dan sangat romantis. “Kapan Irvan maunya ke puncak?” kataku sembari menkmati jilatannya. Aku pun mulai menuntunnya supaya berada di hadapanku. Irvan kubimbing untuk naik ke atas tubuhku. Kedua kakinya mengangkangi tubuhku dan bertumpu pada kursi.

Pantatnya telah berada di atas kedua pahaku dan aku memeluknya. Kuarahkan mulutnya untuk mengisap pentil toket ku. “Bagaimana kalau malam ini saja kami ke puncak sayang. Besok libur dan lusa telah minggu. Kami di pucak dua malam,” kataku sembari mengelus-elus rambutnya.

“Setuju ma. Kami bawa dua buah selimut ma,” katanya mengganti isapan nya dari pentil toket yang satu ke pentil toket ku yang lain. “Kenapa wajib dua sayang. Satu saja..” kataku yang merasakan tusukan penisnya yang mengeras di pangkal perutku.

“Selimutnya kami satukan biar terus tebal, biar hangat ma. Dua selimut kami lapis dua,” katanya. Dirinya mendongakkan wajahnya dan memejamkan matanya, meminta supaya lidahku memasuki mulutnya. Aku memberinya. Sluuupp… lidahku langsung diisapnya dengan lembut dan sebelah tangannya mengelus tetek ku.

Tiba-tiba Irvan berdiri dan mengarahkan penisnya ke mulutku. Aku menyambutnya. Saat penis itu berada dalam mulutku dan aku mulai menjilatinya dalam mata terpejam Irvan berkata:”Rasanya kami langsung saja berangkat ya ma. Hingga dipuncak belum sore.

Kita boleh jalan-jalan ke gunung yang dekat villa itu,” katanya. Aku mengerti maksudenya, supaya aku cepat menyelesaikan keinginannya dan kami segera berangkat. Cepat aku menjilati penisnya dan Irvan Meremas-remas rambutku dengan lembut.

Sampai akhirnya, Irvan menekan kuat-kuat penisnya ke dalam mulutku dan meremas rambutku juga. Pada tekak mulutku, aku merasakan hangatnya semprotan sperma Irvan berbagai kali. Kemudian di dudk kembali ke pangkuanku.

BACA JUGA  Cerita Dewasa - Sedarah Dengan Mama Semok

Di ciumnya pipiku kiri-kanan dan mengecup keningku. Uh… dewasanya Irvan. Au membalas mengecup keningnya dengan lembut. Irvan turun dari kursi, lalu menggunakankan dasterku dan dirinya berangkat ke kamar mandi. Aku kekamar menyiapkan sesuatu yang wajib kami bawa.

Aku tidak lupa membawa dua buah selimut dan pakaian yang sanggup mebnghangatkan tubuhku. Semua siap. Mobil meluncur ke puncak, mengikuti liuknya jalan aspal yang hitam menembus kabut yang dingin. Kami tiba pukul 15.00.

Seusai check in, kami langsung makan di restoran di tepi sawah dan memesan ikan mas goreng dan lapannya. Kami makan dengan lahap sekali. Dari sana kami menjalani jalan setapak menaik ke lereng bukit. Dari sana, aku menonton suatu mobilo biru tua,

Toyota Land Cruiser melintas jalan menuju villa yang tidak jauh dari villa kami. Mobil suamiku, ayahnya Irvan. Tentu dirinya dengan isteri mudanya alias dengan pelacur muda, bisik hatiku. Cepat kutarik Irvan supaya dirinya tidak menonton ayahnya.

Aku telat, Irvan terlebih dahulu menonton mobil yang dirinya kenal itu. Irvan meludah dan menyumpahi ayahnya: “Biadab !!!” Begitu bencinya dirinya pada ayahnya. Aku hanya memeluknya dan mengelus-elus kepalanya. Kami meneruskan perjalanan.

Aku tidak mau suasana istirahat ini membikinnya sehingga tidak indah. Suatu bangku terbuat dari bata yang disemen. Kami duduk berdampingan diatasnya menatap jauh ke bawah sana, ke hamparan sawah yang baru ditanami. Indah sekali. Irvan merebahkan kepalanya ke dadaku.

AKu tahu galau hatinya. Kuelus kepalanya dan kubelai belai. “Tak boleh menyalahkan siapapun dalam hiduap ini. Kami wajib menikmati nasib kami dengan tenanag dan damai dan tulus,” kata kumengecup bibirnya.

Angin mulai berhembus sepoi-sepoi dan kabut sesekali menampar-nampar wajah kami. Irvan mulaui meremas tetek ku, meski tetap ditutupi oleh pakaianku dan bra. “Iya. Kami wajib nasib bahagia. Bahagia hanya untuk milik kami saja,” katanya lalu mencium leherku.

“Kamu lihat petani itu? Mereka sangat bahagia meniti nasibnya,” kataku sembari mengelus-elus penisnya dari balik celananya. Irvan berdiri, lalu menuntunku beridir. Aku mengikutinya. Dirinya mengelus-elus pantatku dengan lembut.

“Lumpur-lumpur itu tentu lembut sekali, Ma,” katanya terus mengelus pantatku. Tentu Irvan terobsesi dengan anal seks, pikirku. Aku wajib memberinya supaya dirinya bahagia dan bahagia dan tidak lari kemana-mana apalagi ke pelacur. Dirinya tidak boleh memperolehnya dari perempuan jalang.

Kami mulai menuruni bukit seusai mobil Toyota biru itu hilang, mungkin ke dalam garasi villa. Irvan tetap memeluk pinggangku dan kami memesan duabotol teh. Kami meminumnya di tepi warung. “Wah… anaknyanya ganteng sekali bu. Manja lagi,” kata pemilik warung.

Aku tersenyum dan Irvanpun tidak melepaskan pelukannya. Sifatnya terbukti manja sekali. “Bahagia ya bu, punya anak ganteng,” kata pemilik warung itu lagi. Kembali aku tersenyum dan orang-orang yang berada di warung itu kelihatan iri menonton kemesraanku dengan anakku.

Mereka tentu tidak tau apa yang sedang kami rasakan. Keindahan yang bagaimana. Mereka tidak tahu. Seusai membayar, kami menuruni bukit dan kembali ke villa. Angin terus kencang sore menjelang mahgrib itu.

Kami memesan dua gelas kopi susu panas dan membawanya ke dalam kamar. Seusai mengunci kamar, aku melapaskan semua pakaianku. Bukankah tadi Irvan mengelus-elus pantatku? BUkankah dirinya ingin anal seks? Seusai aku bertelanjang bulat, aku mendekati Irvan dan melepaskan semua pakaiannya. Kulumasi penisnya pakai lotion.

BACA JUGA  Cerita Dewasa - Gairah Selingkuh Dengan Teman Pacarku

Aku melumasi pula duburku dengan lotion. Di lantai aku menunggingkan tubuhku. Irvan mendatangiku. Kutuntun penisnya yang begitu cepat mengeras menusuk celah duburku. Aku sempat merasakan ini sekali dalam nasibku ketika aku baru menikah.

Sakit sekali rasanya. Dari kawanku aku mengenal, kalau mau main dri dubur, wajibmenggunakan pelumas, katanya. Saat ini aku ingin praktekkan pada Irvan Irvan mengarahkan ujung penisnya ke duburku. Kedua lututnya, tempatnya bertumpu. Perlahan…perlahan dan perlahan.

Aku merasakan tusukan itu dengan perlahan. Ah… Irvan, kau begitu sanggup memberikaapa yang aku inginkan, bisik hatiku sendiri. Setiap kali aku merasa kesat, aku denga tanganku meningkatkani lumasan lotion ke batangnya. Aku merasakan penis itu keluar-masukdalam duburku.

Kuarahkan sebelah tangan Irvan untuk mengelus-elus klentitku. Waw… nimat sekali. Di satu segi klentitku nikat disapu-sapu dan di segi lain, duburku dilintasi oleh penis yang keluar masuk sangat teratur. Tidak ada suara apa pun yang terdengar. Sunyi sepi dan diam.

Hanya ada desau angin, desah nafas yang meburu dan sesekali ada suara burung kecil berkicau di luar sna, menuju sarangnya. Tubuh Irvan telah menempel di punggungku. Sebelah tangannya mengelus-elus klentitku dan sebelah lagi meremas tetek ku.

Lidahnya menjilati tengkukku dan dan leherku bergantian. Aku sangat beruntung memempunyai anak semacam Irvan. Dirinya laku-laki perkasa dan penuh kelembutan. Tapi… kenapa hari ini dirinya begitu buas dan demikian binal? Tapi… Aku terus menikmati kebuasan Irvan anak kandungku sendiri.

Buasnya Irvan, merupakan buas yang sangat santun dan penuh kasih. Aku telah tidak sanggup membendung nikmatku. AKu menjepit tangan Irvan yang tetap mengelus klentitku jugamenjepit penisnyadengan duburku. Irvan mendesah-desah.

“Oh… oh….oooooohh…” Irvan menggigit bahuku dan mempermainkan lidahnya di sela-sela gigitannya. Dan remasan pada tetek ku terasa begitu nikmat sekali. Ooooooooooohhhh… desahnya dan aku pun menjerit.. Akhhhhhhhhhhhh………

Lalu aku menelungkup di lantai karpet tidak sanggup lagi kedua lututku untuk bertumpu. Penis Irvan mengecil dan meluncur cepat keluar dari duburku. Irvan cepat membalikkan tubuhku. Langsung aku diselimutinya dan diamasuk ke dalam selimut, sembari mengecupi leherku dan pipiku.

Kami terdiam, hingga desah nafas kami normal. Irvan menuntunku duduk dan membimbingku duduk di kursi, lalu melilit tubuhku dengan selimut hotel yang terdapat di atas tempat tidur. Dirinya mendekatkan kopi susu ke mulutku. Aku meneguknya.

Kudengar dirinya mencuci penisnya, lalu kembali mendekat padaku. Dirinya kecup pipiku dan berkata:”Malam ini kami makan apa, Ma?” “Terserah Irvan saja sayang.” “Seusai makan kami kemana, Ma?” dirinya membelai pipiku dan mengecupnya lagi.

“Terserah Irvan saja sayang. Hari ini, merupakan harinya Irvan. Mami ngikut saja apa maunya anak mama,” kataku lembut. “OK, Ma. Hari ini harinya Irvan. Besok hingga minggu, harinya mama. Malam ini kami di kamar saja. Aku tidak mau ketemu dengan orang yang naik Toyota Biru itu,” katanya geram.

Nampaknya penuh dendam. Aku menghela nafas. Usai makan malam, kami kembali ke kamar dan langsung tidur di bawah dua selimut yang hangat dan berpelukan. Kami tidur hingga pukul 09.00 pagi baru terbangun.

author
No Response

Comments are closed.