Judi Bola

Cerita Seks Kakak Ipar

1010 views
Casino Uang Asli

Sedarah – Aku biasa di pangil Kun. Kedua orang tuaku telah meninggal, Ketika itu aku baru kelas 2 SMP, Aku terpaksa ikut Mas Pras. Dirinya merupakan anak ayah dari isteri pertama. Jadi aku serta Mas Pras lahir dari bunda yang tidak sama. Mas Pras ( 30 tahun ) orangnya baik serta sayang kepadaku, tapi istrinya……… wah judes, serta galak.

Ketika Ibuku meninggal, yang mengdampakkan aku jadi sebatang kara di dunia, Mas Pras baru seminggu menikah. Kehadiranku di keluarga baru itu, pasti sangat mengganggu privasi mereka. Rumah kontrakan sempit hanya ada tiga ruang. Kamar tidur, kamar tamu serta dapur.

Aku merasakan sikap yang tidak lebih enak ini sejak aku hadir di situ. “Kun, kalian tidur di kursi tamu dulu, ya…? Alias di karpet juga dapat. Kalian tau kan, terbukti tidak ada tempat?” Mas Pras menyapaku dengan lembut.”Sama Mbak-mu wajib nurut.

Bantu dirinya kalu tidak sedikit pekerjaan” Aku hanya mengangguk. Aku tidak begitu bersahabat dengan Mas Pras, sebab terbukti jarang berjumpa. Aku di Jogja, Mas Pras kerja di Semarang. Nengok bunda (tiri) paling setengah tahun sekali. Sambil mengirim uang buat anggaran sekolah aku. Kakak lalu pergi kerja. Dirinya merupakan sopir truk antar- propinsi. Saat itu aku putus sekolah.

Di Jogja belum keluar, tapi di Semarang belum masuk ke sekolah baru. Sehari-hari di rumah sempit itu menemani kakak ipar yg baru seminggu ini kukenal. Rasanya aku tidak krasan tinggal di “neraka” ini. Tapi mau ke mana serta mau ikut siapa? Pagi itu aku telah berakhir menjemur pakaian yang dicuci Mbak Narsih. Kulihat dirinya lagi sibuk di dapur. “Mbak, saya disuruh bantu apa?” aku mencoba pedekate dengan Mbak Narsih.

“Cah lanang, dapatnya apaaa. Sana ambil air, cuci gelas, piring serta penuhi bak mandi.” Sakit telinga serta hatiku mendengar perintahnya yang kasar. Tanpa ba-bi-bu semua kulaksanakan. Sebab tidak ada lagi yang mesti dikerjakan lagi, iseng-iseng aku nyetel radio kecil di meja tamu (Kakak gak punya tivi) “E…malah dengerin radio……….sana belanja ke warung” aku diberi daftar belanjaan. Untungnya aku telah biasa menolong Bunda ketika beliau tetap ada. Aku nasib bersama Bunda sejak kecil, sebab ayah telah lama meninggal. Agak jauh warung itu.

Aku tidak malu-malu serta canggung beli sayuran, malah Bu Salamun, yang jual sayur heran, “Mbok, nyuruh pembantunya, to cah keren. Kok belanja sendiri.” Aku cuma senyum saja. “Ini, Mbak, belanjaannya. Ini susuknya.” Kuserahkan tas kresek serta uang kembalian, tapi Mbak Narsih tetep sibuk marut kelapa.

Kutaruh saja tas kresek itu di kursi kayu dekat kompor minyak. Terbukti kesannya dirinya baru marah. Padahal aku tidak merasa meperbuat kesalahan apa pun. Tanpa disuruh aku ikut mengupas bawang, memetik sayur serta menyiapkan bumbu yang tadi kubeli. “Mau bikin sayur lodeh,to Mbak?” “Sok tau………..” jawabnya ketus. Dirinya mulai masak. Aku keluar saja.

Ada rasa ngeri deket-deket orang marah. Di luar aku nggak berani dengerin radio lagi. Ingin rasanya aku menangis serta pergi dari rumah ini. Aku duduk di teras rumah menonton orang berlalu lalang di depan rumah. Tiba-tiba aku membaui masakan yang gosong.

Tapi aku tidak berani masuk. Takut dibentak istri Mas Pras yang cantik tapi guualakke pol itu. “Kuuuuuunnn…………..sini” Mbak Narsih berteriak terbuktigil. Aku bergegas masuk. Kulihat dapur berantakan. Panci sayur di lantai, sayur tumpah. Kursi tempat menaruh bumbu telah terguling.Bumbu bertebaran di lantai.

Dan…. kompor menyala besaar sekali. Untung aku tidak ikut panik serta dapat berpikir cepat. “Mbaaaakk…kenapa tanganmu?” Kulihat tangannya merah melepuh, Tangan Mbak Narsih sepertinya ketumpahan kuah tapi perhatianku lebih tertuju pada kompor yang menyala besar sekali,. Cepat kuambil keset di ruang tamu, kubasahi dengan air cucian serta kututupkan ke kompor yang menyala itu.

Sesaat kemudian kompor itu padam. Cepat kupetik papaya di depan rumah ( padahal itu milik tetangga) kubelah pakai pisau. Lalu getahnya kuusapkan ke tangan Mbak Narsih yang melepuh. “Jangan…nanti sakit….ngawur….aduuuuh,,,” Mbak Narsih menangis serta aku nekad memelihara & menutup lukanya iu dengan sayatan-sayatan papaya mentah.

Luka itu akhirnya tertutup semua dengan sayatan buah papaya. Keliatannya usahaku berpengaruh. Mbak Narsih agak tenang sekarang. “Telah dingin, Mbak?” aku menatap dengan iba kakak iparku yang malang ini. Air matanya meleleh.

Dia diam membisu sambil menggigit bibirnya menahan sakit. Pasti panas serta perih, aku tahu itu. “Kun, kami gak dapat makan siang.” Akhirnya keluar suara Mbak Narsih, pelan tidak galak lagi.“Wis Mbak, istirahat saja, tetap sakit kan?” kutegakkan kursi yang terguling serta kutuntun Mbak Narsih duduk. Dapur segera kubersihkan.

BACA JUGA  Cerita Dewasa - Ngentot Dengan Ibu Tiri Cantik

Kompor dapat menyala lagi. Sisa-sisa bumbu yg ada kupakai untuk masak sayur pepaya. Aku telah terbiasa menolong Ibu, jadi ini hanya sebuahkebiasaan. Mbak Narsih hanya menonton aku sibuk di dapur tanpa komentar. Dirinya terus-terusan mengaduh kesakitan.

Tapi aku mendahulukan berakhirnya pekerjaan di dapur. Sayur telah masak. Nasi telah ada. Semua kuatur di meja tamu yang sekaligus menjadi meja makan. “Mbak, mau makan? Tidak ambilke, ya?” Mbak Narsih hanya memandangku dengan mata basah.

“Kun, kalian baik, ya? Terimasih, ya Dik, tapi kedua tanganku melepuh begini, serta ini perutku perih sekali. Kulihat perut Mbak Narsih, Astaga…. Nyatanya daster sebelah kiri telah terbakar serta perut Mbak Narsih bengkak kemerah-merahan. Aku cari sisa-sisa irisan papaya tadi. Aku parut lembut serta kuparamkan di perutnya.

Waktu itu aku tidak berpikir macem-macem, sebab perhatianku pada penderitaannya. Dirinya agak tenang sekarang. “Ambilkan daster Mbak yang utuh di lemari, Kun. Yang kupakai ini dibuang saja, telah separo terbakar.” Aku ambilkan daster pink di lemari lalu….aku berhenti serta termangu di depan Mbak Narsih. “Ayo, buka daster yang terbakar ini. Tolong diganti dengan yang kalian ambilkan tadi.” Mbak Narsih menonton keraguanku tadi.

‘Pelan, pelan…. Ada yang tetap lengket di kulit…ssss… adduuuh” Akhirnya daster itu dapat kulepas. Baru hari ini aku menonton dengan jelas serta dari dekat, wanita setengah telanjang. Mbak Narsih berkulit putih bersih. Perutnya rata serta…. yang terbungkus di bra hitam itu bulat putih serta besaar. Aku terpesona sesaat. “Ayoooo….. dingiiin, Kun. Cepat ambil daster pink itu” aku terbangun dari pesona keindahan di depanku segera menggunakankan daster itu. Siang itu aku menyuapi Mbak Narsih. “Enak, Kun, masakanmu.

Kamu kok dapat masak, to?” “Halah, aku Cuma liat Bunda masak serta tidak jarang menolong Ibu.” Tapi dalam hati aku bangga mendapatkan perhatian seperti itu. Lik Yanto serta Mbak Saodah, isterinya, datang menengok serta memberi salep dingin.

Tiap hari, pagi serta sore aku mengolesi luka-lukanya. Kedua tangan, jari, serta perutnya. Tiga hari aku memelihara Mbak Narsih ……. selagi memelihara suasana telah berubah total. Keadaan dia, dua tangannya nyaris nggak bbisa pegang apapun. Telapak tangan melepuh, membuat dirinya menyadari bahwa saat itu, aku diperlukan memelihara nya, selagi Mas Pras belum pulang.

Sebab tiap pagi serta sore, mengepel tubuhnya, aku dapat menonton dari dekat seperti apa tubuh wanita dewasa itu. Saat aku mengelap tubuhnya, aku jadi tau, bentuk payudaranya yang bulat serta kenceng, putingnya yang coklat dipucuk gunung putihnya, Saat kulepas celdamnya, dapat kulihat bibir bawahnya yang indah berambut tipis. Pangkal pahanya lebih putih daripada kurang lebihnya. Terbukti Mbak Narsih wanita cantik sempurna.

Kakakku tidak salah memilih pasangan nasibnya. Mas Pras ganteng, Mbak Narsih cantik. Hidungnya mungil tapi tidak pesek. Runcing indah di atas bibirnya yang mungil. Seperti artis, tapi tubuh kakakku jauh lebih besar serta lebih tinggi. Tanpa kusadari, aku kok merasa asyik memelihara kakakku ini. Pengen nya hari segera sore alias kalau malam ingin segera pagi.

Ada kerinduan untuk memelihara serta menonton keindahan itu. Ah, berdosakah aku? Tidak jarang aku diam melamun diombang-ambingkan perasaan ingin menikmati tapi juga merasa bersalah terhadap Mas Pras. Seusai tiga hari hanya di lap serta dipel dengan handuk basah., pagi itu dirinya minta dimandikan dengan air hangat. Kusiapkan air hangat di baskom. Mbak Narsih duduk di kursi kayu, kamar mandi kubiarkan terbuka, supaya ruangan lebih luas serta aku dapat ikut masuk mengguyur tibuhnya serta memandikannya.

Aku merasakan kehalusan kulitnya saat aku menyabuni tubuhnya. Pahanya yang mulus serta bersih, pundak serta lehernya yang jenjang serta putih. Tadinya aku ragu-ragu untuk menyabuni susunya. Tapi Mbak Narsih dengan “marah” memaksaku menyabuni bukit kembarnya itu. “Kun, terus saja gosok serta putar-putar di situ, biar bersih.” perasaan telah bersih banget, kenapa disuruh menyabuni terus. Menonton kemontokannya terasa celanaku jadi sempit.

“Nah. Diputar putar gitu, Kun. Terus dari bawah diangkat sambil digosok.” Mbak Narsih terus member pengarahan. Kusangga payudaranya naik, lalu sedikit kuremas serta kupijit. Mbak Narti tidak protes, Cuma memandang ke payudaranya yang terus menggembung montok itu. Apalagi kedua tangannya diangkat naik sebab takut telapak tangannya yang luka terkena air, jadi keteknya yang bermbut tipis itu terbuka lebar.

Payudaranya terangkat naik. “Sekarang, ambil air lagi, diguyur pelan-pelan. Sambil dihilangkan sabunnya.” Kuguyur merata, serta sisa-sisa busa larut ke bawah menampakkan kecerahan kulitnya yang terus terang. Aku yakin tanpa lampu pun kamar mandi itu bakal terang benderang sebab kecerahan kulitnya.“Dikosoki, Kun biar dakinya ilang.” Mbak Narsih mengulang lagi. Mulutku terkatub rapat sambil menggigit bibir, menahan perasaan aneh di hati, kugosok-gosok sisa sisa sabun yang terasa licin itu.

BACA JUGA  Cerita Seks Calon Mertua Pandai Oral

Terbukti enak rasanya menyentuh daging empuk ini. Aku malah setengah meremas pada ujung-ujungnya. Aku heran kenapa pucuknya keras. kenapa setiap aku remas ujung susunya, Mbak Narsih memejamkan matanya. “Masih sakit, Mbak?” Dirinya Cuma menggeleng tapi tetap mata terpejam.

“Kun, telah tiga hari ini Mbak nahan untuk tidak ke WC, tapi perutku telah sakit banget. Aku mau ke WC, Kelak tolong kalian semprot ya anuku, pakai toler air. Tanganku tetap melepuh.” Mbak Narsih jongkok di WC, pintu kututup. Wah, baunya hingga juga di luar. Aduuuh, tugas berat nih, keluhku dalam hati membayangkan kotoran yang baunya saja telah begitu menyengat. Kupijit hidungku. “Kun, buka pintu WC serta semprot aku ya” kudengar suaranya dari dalam.

Telah kusipkan air yg kuberi sedikit obat pel yang wangi. Kubuka kran serta kutembakkan “water kanon” itu untuk membersihkan kotoran yang menempel di sana. Lalu Mbak Narsih membalikkan badan, membelakangiku. Pantatnya yang besar serta putih itu terpampang di hadapanku,”Semprot, Kun….!” Aku arahkan dari bawah air itu menyemprot celah anusnya. “Telah bersih belum Kun?” Mbak Narsih nungging, terkesan dua celah dobel.

Berwarna pink semuanya. Ooo, seperti ini bentuk tempik perempuan dewasa dari dekat? Celanaku terus mengggembung. “Telah belum? Kok lama sekali lihatnya?” dirinya protes “SSssuudah…Mbak, jelas sekali…eeehh bersih sekali” aku jadi salah tingkah serta keseleo lidah. “Sekarang ambil sabun. Tolong sabunilah biar hilang baunya. Tanganmu gak bakal kena kotoranku lagi” Haaaa…. Menyabuni “ituuu?” Aku kok jadi bersemangat, tapi kusembunyikan kegiranganku itu dengan bersikap senormal serta setenang mungkin.

Kugosok anusnya dengan sabun, lalu kemaluannya secukupnya, kemudian kubilas lagi dengan semprotan air wangi tadi.. Pengin-nya aku mau lama- lama, tapi aku malu. Waktu meraba belahan kemaluan Mbak Narsih tadi, punyaku berkedut-kedut luar biasa seperti mau kencing. “Kun, kok cepet-cepet, ya nggak bersih dong.” Sergah Mbak Narsih dengan raut marah.”Ayo lagi” Aku ambil sabun lagi. Celah duburnya kuusap-usap pelan, dari belakang kulihat bokong putih itu terangkat-angkat saat aku mengusap tadi.

Seluruh permukaan bokongnya kusabuni dengan penuh perasaan. O, bersihnyaaaa..ooo putihnya…. Lalu kutelusupkan jariku maju ke “garis” di depan sana. Nyatanya jariku “keceplos” ke dalam alur yang basah serta hangat. Di dalam terasa ada keduta-kedut yg menjepit jariku.

Seperti ajaran listips, menjalar ke celanaku terasa juga kedutan kedutan liar di yang terus terasa. “Terus saja, Kun, teruussss….. nah.. pinter kamu, Kun…” Mbak Narsih menggumam seperti ngomong sendiri. Aku terus tidak dapat menahan kedutan di celanaku. Tidak terasa serta tidak kusadari, jariku bergerak menusuk terus dalam ke “sana” seiring rasa yg kurasakan.

Ujung jariku terasa menggapai-gapai sesuatu yang menonjol di dalam “sana” serta Mbak Narsih mendesis ; “Aaaaahhhh.. ssssshhh…” mendengar rintihan Mbak Narsih, aku terus “menderita” sebab ada seperti gelombang getaran yang mau menjebol benteng. Jariku bergerak maju-mundur terus cepat, serta gelombang itu terus mendekat.

”Aaaahhhh…Mbak..” Bersamaan dengan itu Mbak Narsih juga merintih,”Ahh ssshhh,,,, aku keluaarrrr… oooohhhh” Aku merasa ada yang keluar di celanaku. Aku ngompol! Padahal aku tidak tidur? Tapi kok enaaak sekali? Tiba-tiba aku merasa malu, takut kalau Mbak Narsih menoleh serta menonton celanaku basah. Mbak Narsih keliatan lemes tapi wajahnya mengekspresikan kepuasan.

Seusai kulap dengan handuk seluruh tubuhnya, aku kenakan daster yang bersih. Rambutnya aki sisir rapi. Mbak Narsih diam saja dengan sikap manis. Pagi ini terkesan dirinya sangat cantik. Sambil menyisir rambutnya, kupandangi sepuasnya makhluk cantik di hdapanku sepuas-puasnya. Seminggu kemudian Mas Pras pulang. Perban telah dilepas, tapi tangan jadi belang. “Kenapa, Sih, tanganmu?” Mas Pras terkesan kuwatir. “Kompornya meledak. Untung ada pahlawan kecilmu.” Mas Pras mengelus kepalaku. dirinya tersenyum.

Aku jadi bangga campur nalu. Aku khawatir Mbak Narsih cerita kalau aku menyeboki dia. Aku berdebar- debar terus. Untung Mbak Narsih malah cerita kalau aku nyatanya pinter masak serta memelihara. “Dik Narsih, Kuntadi ini juara masak dalam lomba masak di sekolahnya. Dirinya juga bintang lapangan basket.”

Pujian Mas Pras membuat aku terus malu saja. Meskipun itu terbukti benar.

author
No Response

Comments are closed.