Judi Bola

Cerita Seks Ibu Mertua

346 views
Casino Uang Asli

Separuh Baya – Namaku Heri, umurku kini ini 26 tahun. Ini merupakan pengalamanku yang sangatlah nyata dengan Bunda mertuaku. Umurnya belum terlalu tua baru kurang lebih 45th. Dulunya baru umur 18 tahun dirinya telah kimpoi. Bunda mertuaku bentuk tubuhnya biasa-biasa saja malah boleh dikatakan langsing serta singset semacam perawan.

Tak heran sebab hingga saat ini ia tetap mengkonsumsi jamu untuk supaya rutin tahan lama muda serta langsing. Pendek cerita ketika istipsu baru melahirkan anak pertama serta aku wajib puasa selagi sebulan lebih. Dapat dibayangkan sendiri bagaimana pusingnya aku. Hingga sebuahsaat aku mengantar Bunda mertuaku pulang dari menengok cucu pertamanya itu.

Aku biasa mengantarnya dengan motorku. Tetapi kali itu turun hujan ditengah perjalanan. Sebab telah basah kuyup serta hari telah menjelang tengah malam aku paksakan untuk menerobos hujan yang deras itu. Setiba dirumah aku ingin segera membersihkan badan lalu menghangatkan badan.

Di rumah itu hanya ada aku serta Bunda mertuaku sebab kakak iparku tinggal ditempat lain. Sedangkan adik iparku yang biasa menemani Bunda mertuaku dirumah itu untuk sementara tinggal dirumahku untuk menjaga istipsu.

“Kamu mandi aja deh sana, Her” Kata Bunda mertuaku menyuruhku mandi
“Ah.. nggak usah.. Bunda duluan deh” Kataku menolak serta menyuruhnya supaya lebih dulu
“Udah.. Bunda disini aja” Kata Bunda mertuaku yang memilih tempat cuci baju serta cuci piring diluar kamar mandi. Sebab disitu juga ada air keran.
“Yah.. udah deh” Kataku sambil mendahuluinya masuk ke kamar mandi.

Suasana waktu itu agak remang-remang sebab lampu penerangannya hanya lampu bohlam 5 watt. Aku iseng ingin tahu bentuk tubuh Bunda mertuaku yang sebetulnya ketika ia telanjang bulat. Maka aku singkapkan sedikit pintu kamar mandi serta melihatnya melepas satu per satu bajunya yang telah basah kuyup sebab kehujanan. Dirinya tidak tahu aku melihatnya sebab dirinya membelakangiku.

Aku perhatikan dirinya mencopot kaus T-shirt-nya ke atas melalui bahu serta lehernya. Lalu BH-nya dengan mencongkel sedikit pengaitnya lalu ia luar biasa tali BH-nya serta BH itupun terlepas. Adegan yang paling syur ialah ketika ia membuka celana panjang jeansnya. Sret.. celana jeans ketat itu ditariknya ke bawah sekaligus dengan CD-nya.

Jreng..! Aku lihat kedua buah pantatnya yang kencang serta montok itu menantangku. Aku yang telah tidak merasakan sex selagi satu bulan lebih serta lagi dihadapkan dengan pemandangan semacam itu. Aku nekat untuk mendekatinya serta aku peluk dirinya dari belakang.

“Eh.. Her.. ini apa-apaan.. Her” hardik Bunda mertuaku.
“Bu.. tolongin saya dong, Bu” rayuku
“Ih.. apaan sih..?!” Katanya lagi
“Bu, udah dua bulan ini saya nggak dapet dari Dewi.. tolong dong, Bu” bujukku lagi
“Tapi aku inikan ibumu” Kata Bunda mertuaku
“Bu.. tolong, Bu.. please banget” rayuku sambil tanganku mulai beraksi.

Tanganku meremas-remas buah dadanya yang ukurannya kurang lebih 34b sambil jariku memelintir putting susunya. bibir serta lidahku menjilati tengkuk lehernya. Tanganku yang satu lagi memainkan klentit-nya dengan memelintir daging kecil itu dengan jariku.

Batang penisku aku tekan dicelah pantatnya tapi tidak aku masukkan. Bunda mertuaku mulai bereaksi. Tangannya yang tadi berusaha meronta serta menahanku saat ini telah mengendor. Dirinya membiarkanku mengawali serta memainkan ini semua. Nafasnya memburu serta mulai mendesah-desah.

“Dikamar aja yuk, Bu” bisikku

Aku papah Bunda mertuaku menuju kamarnya. Aku baringkan dirinya tempat tidur. Aku buka kedua kakinya lebar-lebar serta semacamnya Bunda mertuaku telah siap dengan batang penisku. Tapi aku belum mau mengawali semua itu.

“Tenang aja dulu, Bu. Rileks aja, Ok?” Kataku.

Aku mengarahkan mukaku ke liang vaginanya serta aku mulai dengan sedikit jilatan dengan ujung lidahku pada klentitnya.

BACA JUGA  Cerita Seks Diperkosa Tante Girang

“Ough.. sshhtt.. ough.. hmpf.. hh.. ooghh” Bunda mertuaku mendesah serta mengerang menahan kenikmatan jilatan lidahku.

Dia semacamnya belum sempat merasakan oral sex serta baru hari ini saja ia merasakannya. Terkesan reaksi semacam kaget dengan kenikmatan yang satu ini.

“Enak kan, Bu..?” Kataku
“Hmh.. kamu.. sshtt.. kamu.. koq.. gak jijik.. sih, Her?” Tanyanya ditengah-tengah desah serta deru nafasnya.
“Enggak, Bu.. enak koq.. gimana enak gak?”
“Hmh.. iyahh.. aduh.. sshhtt.. eenak.. banget.. Her.. sshhtt” jawab Bunda mertuaku sambil terus merintih serta mendesah.
“Itu baru awalnya, Bu” Kataku.

Hari ini aku kulum-kulum klentitnya dengan bibirku serta memainkan klentit itu dengan lidahku. Aku lihat sekujur tubuh Bunda mertuaku semacam tersetrum serta mengejang. Ia lebih membawa lagi pinggulnya ketika aku hisap dalam-dalam klentitnya.

Tak hingga disitu aku terobos liang vaginanya dengan ujung lidahku serta aku masukkan lidahku dalam-dalam ke liang vaginanya itu lalu aku mainkan liukkan lidahku didalam liang vaginanya. Seiring dengan liukanku pinggul Bunda mertuaku ikut juga bergoyang.

“Ough.. sshhtt.. ough.. sshhtt.. oughh.. hmh.. ough.. shhtt.. ough.. hmh.. oufghh.. sshhtt” suara itu terus keluar dari mulut Bunda mertuaku menikmati kenikmatan oral sex yang aku berbagi.

Aku telahi oral sex ku lalu aku bangun serta berlutut dihadapan liang vaginanya. Baru aku arahkan batang penisku ke liang vaginanya tiba-tiba tangan halus Bunda mertuaku memegang batang penisku serta meremas-remasnya.

“Auw.. diapain, Bu..?” Tanyaku
“Enggak.. ini supaya dapat lebih tahan lama” Kata Ibuku sambil mengurut batang penisku.

Rasanya geli-geli nikmat bercamput sakit sedikit. Semacamnya hanya diremas-remas saja tetapi tidak nyatanya ujung-ujung jarinya mengurut urat-urat yang ada dibatang penis untuk memperlancar ajaran darah jadi dapat lebih tegang serta kencang serta tahan lama.

“Guedhe.. juga.. punya kamu, Her” Kata Bunda mertuaku sambil terus mengurut batang penisku.
“Iya dong, Bu” Kataku.

Hari ini kedua tangan Bunda mertuaku beraksi mengurut batang penisku. Tangan yang satunya lagi mengurut-urut buah pelirku serta yang satu lagi semacam mengocok tetapi tidak terlalu ditekan dengan jari jempol serta telunjuknya. Tidak lama kemudian..

“Egh.. yah.telah.. pelan-pelan.. yah sayang” Kata Bunda mertuaku sambil menyudahi pijatan-pijatan kecilnya itu serta mewanti-wantiku supaya tidak terlalu terburu-buru menerobos liang vaginanya.

Aku angkat kedua kaki Bunda mertuaku serta aku letakkan dikedua bahuku sambil mencoba menerobos liang vaginanya dengan batang penisku yang sedari tadi telah keras serta kencang.

“Ouh.. hgh.. ogh.. pelan-pelan, Her” Kata Bunda mertuaku ditengah-tengah deru nafasnya.

“Iya, Bu.. sayang.. egh.. aku pelan-pelan koq” Kataku sambil perlahan-lahan mendorong penisku masuk ke liang vaginanya.
“Ih.. punya kalian guedhe banget, sayang.. ini sih.. diatas rata-rata”Katanya
“Kan tadi udah diurut, Bu” Kataku.

Aku teruskan aksiku penetrasiku menerobos liang vaginanya yang kering. Aku tidak merasa istimewa dengan batang penisku yang panjangnya hanya 15cm dengan diameter kurang lebih 3 cm. Dengan sedikit usaha.. tiba-tiba.. SLEB-SLEB-BLESSS! Batang penisku telah masuk semua dengan perkasanya kedalam liang vagina Bunda mertuaku.

“Ough.. egh.. iya.. sshh.. pelan-pelan aja yah, sayang” Kata Bunda mertuaku yang mewantiku supaya aku tidak terlalu terburu-buru.

Aku mulai meliukkan pinggulku sambil naik turun serta pinggul Bunda mertuaku berputar-putar semacam penyanyi sertag-dut.

“Ough.. gilaa, Bu.. asyik.. banget..!” Kataku sambil merasakan nikmatnya batang penisku diputar oleh pinggulnya.

“Ough.. sshtt.. egh.. sshh.. hmh.. ffhh.. sshhtt.. ough.. sshhtt.. oughh” Bunda mertuaku tidak menjawab hanya memejamkan mata sambil mulutnya terus mendesah serta merintih menikmati kenikmatan sexual. Baru kurang lebih 30 menit aku telah bosan dengan posisi ini serta ingin berganti posisi. Ketika itu kita tetap dalam posisi konvensional. Aku mau memperkenalkan variasi lain pada Bunda mertuaku..

BACA JUGA  Cerita Dewasa - Penghianatan Yang Nikmat

“Eh.. Bunda yang di atas deh” Kataku.
“Kenapa, sayang.. kalian capek.. yah..?” Tanyanya.
“Gak” jawabku singkat.
“Mo keluar yah.. hi.. hi.. hi..?” Godanya sambil mencubit pantatku.
“Gak.. ih.. aku gak bakalan keluar duluan deh” Kataku sesumbar.
“Awas.. yah.. kalo keluar duluan” Goda Bunda mertuaku sambil meremas-remas buah pantatku.
“Enggak.. deh.. Bunda yang bakalan kalah sama aku”Kataku arogan sambil balas mencubit buah dadanya
“Auw.. hi.. hi.. hi” Bunda mertuaku memekik kecil sambil tertawa kecil yang membikinku terus horny.

Dengan berguling ke samping saat ini Bunda mertuaku telah berada di atas tubuhku. Sambil menyesuaikan posisi sebentar ia lalu duduk di atas pinggulku. Aku dapat melihat keindahan tubuhnya perutnya yang rata serta ramping. Tidak ada seonggok lemakpun yang menumpuk diperutnya. Buah dadanya juga tetap kencang dengan putting susu yang mengacung ke atas menantangku.

Aku juga duduk serta meraih puting susu itu lalu ku jilat serta ku kulum. Bunda mertuaku mendorongku serta menyuruhku tetap berbaring seakan-akan hari ini lumayan ia yang pegan kendali. Bunda mertuaku kembali meliuk-liukkan pinggulnya memutar-mutar semacam Inul Daratista.

“Egh.. sshhtt.. ough.. sshhtt.. ough.. egh.. hmf” desah Bunda mertuaku.
“Gila, Bu.. enak banget..!”
“Ough.. sshhtt.. ough.. sshtt.. ough” Bunda mertuaku mendesah serta merintih sambil terus meliuk-liukkan pinggulnya memainkan batang penisku yang berada didalam liang vaginanya.

Tanganku meremas buah dadanya yang tidak terlalu besar tapi pas dengan telapak tangan. Tanganku yang satunya lagi meremas buah pantatnya. Batang penisku yang kencang serta keras terasa lebih keras serta kencang lagi. Ini berkah pijatan dari Bunda mertuaku tadi itu. Dapat dibayangkan apabila tidak aku telah lama orgasme dari tadi.

“Ough.. sshtt.. emh.. enagh.. egh.. sshhtt.. ough.. iyaahh.. eeghh.. enak.. ough” liukan pinggul Bunda mertuaku yang tadinya teratur saat ini berubah terus liar naik turun maju mundur tidak karuan.

“Ough.. iiyyaahh.. egghh.. eghmmhhff.. sshhtt.. ough.. aku udah mo nyampe” Kata Bunda mertuaku.
“Bu.. aku juga pengen, Bu.. egh” Kataku sambil ikut menggoyang naik turun pinggulku.
“Egh.. iyah.. kerenshh.. sayangg.. ough.. sshhtt.. ough.. sshtt.. ough” Bunda mertuaku merespons gerakanku untuk menolongnya orgasme.

Aku mempercepat goyanganku sebab semacam ada yang mendesak dibatang penisku untuk keluar juga.

“Hmfh.. terusshh.. iyah.. ough.. oughh.. AAAUGHH.. OUGH.. OUGH.. OUGH” Bunda mertuaku telah hingga pada orgasmenya.

Pada batang penisku terasa semacam ada cairan hangat mengucur deras membasahi batang penisku. Bunda mertuaku menggelepar serta diakhiri dengan menggelinjang liar serta nafasnya yang tersengal. Bunda mertuaku telah berhenti meperbuat liukan pinggulnya.

Hanya denyutan-denyutan kencang didalam liang vaginanya. Aku merasakan denyutan-denyutan itu semacam menyedot-nyedot batang penisku Serta.. CROT.. CROTT.. CROTTT..! muncrat semua air maniku diliang vagina Bunda mertuaku.

“Bu, kerasa nggak air mani saya muncratnya..?” Tanyaku
“Eh.. iya, Heri sayang.. Bunda udah lama pengen beginian” Kata Bunda mertuaku
“Iya.. kini kan udah, Bu” Kataku sambil mengecup keningnya
“Oh.. kamu.. luar biasa banget deh, Her” Kata Bunda mertuaku sambil membelai-belai rambutku.
“Itu semua kan sebab Ibu” Kataku memujinya
“Ih.. dapat aja.. kamu” sahut Bunda mertuaku sambil mencubit pinggulku.

Ibu mertuaku tetap di atas tubuhku ketika HP-ku berbunyi nyatanya dari istipsu yang menyuruhku supaya menginap saja dirumah Bunda mertuaku. Seusai telepon di tutup aku memekik kegirangan. Seusai itu kita meperbuat pemanasan lagi serta meperbuatnya sepanjang malam hingga menjelang subuh kita sama-sama kelelahan serta tidur. Entah telah berapa kali kita bersenggama dalam beberapa posisi.

Pagi harinya kita tetap meperbuatnya lagi dikamar mandi untuk yang terbaru lalu seusai itu aku sarapan serta pulang.

author
No Response

Comments are closed.