Judi Bola

Cerita Seks Dilema Perselingkuhan

667 views
Casino Uang Asli

Cerita Sex – Aku tinggal di rumit perumahan elit di kota Y. Suamiku tergolong orang yang rutin sibuk. Sebagai PNS di kota Y tugasnya boleh dibilang tidak kenal waktu. Usiaku telah 35 tahun selisih tiga tahun lebih tua suamiku. Tinggi 158 cm dan berat 50 kg, orang-orang bilang tubuhku keren, tapi menuruntuku biasa–biasa saja.

Aku punya dua putra, anak pertama kelas tiga SMP dan anak kedua kelas satu SMP. Sebut saja namaku Ina (bukan nama sebetulnya). Aku meperbuat kesalahan yang sangat fatal dalam nasib ini sebab aku telah berselingkuh dengan seseorang yang aku belum begitu mengetahuinya.

Singkat cerita, kejadian ini pada tanggal enam Maret 2014, dimana waktu itu aku berkunjung kekantor suamiku seusai aku pulang dari mengajar, oh ya, aku merupakan seorang guru di salah satu SMP Negeri dan Swasta di kota Y.

Dari sekolahan aku langsung melucur kekantor di kota Y, tapi diperempatan sebelah timur tugu aku telah melanggar lampu merah dan akhirnya aku dikejar oleh salah seorang polisi yang sedang bertugas, sang Polisi berhenti memotong laju kendaraanku aku pun bergegas menginjak rem.

“Selamat Siang Bu..!”
“Siang pak”, begitu sahutku.
“Maaf Bu, Kamu telah melanggar lampu merah, Tolong tunjukan SIM dan STNK Anda.”

Aku pun mengeluarkan dompet dan menyerahkan SIM beserta STNK.

“Maaf Bu, Kamu Ikut saya kepos Polisi.”

Aku pun menurutinya sebab aku juga merasa bersalah.
Polisi muda tersebut tetap berumur kurang lebih 28 Tahun berinisial “R”.
Kami pun sama–sama menuju pos polisi.

Seusai hingga dipos polisi saya diberi pilihan untuk mengembalikan SIM saya. Yang pertama aku wajib sidang pada tanggal 11 Maret dan aku wajib membayar denda sebesar Rp. 20.000,00. Tanpa ambil pusing akupun langsung membayar denda sebab aku juga tergesa–gesa menuju kantor suamiku, sebab suamiku telah menantikanku untuk pulang bareng, kebetulan suamiku tidak bawa mobil sebab digunakan salah satu kawannya. Ku akui kalau polisi tersebut tampan, badan tinggi dan tegap. Seusai proses pembayaran denda berakhir, sang polisi bertanya.

“Maaf Bu, kenapa Bunda kelihatannya Tergesa-gesa?”
“Iya ini pak, saya telah ditunggu suamiku dikantornya.”
“Kalau boleh tahu kantornya dimana Bu?”
“Kantor *** Pak”, aku jawab pertanyaannya.
“Oya, Suami Bunda siapa namanya, kalau boleh tau”?

“Pak Guruh (bukan Nama Sebetulnya)”
“Ha… Pak Guruh”, Polisi merasa terkejut.
“Iya terbukti kenapa”, tanyaku terhadap polisi muda.
“saya kenal baik bu dengan dia.”
“Oh ya… Bapak kenal dimana?”, Kembali tanyaku.
“saya tidak jarang kekantor sana Bu, jadi ya kenal dengan pak Guruh.”

“Oh… Iya sich polisi sama kantor sana tetap saudara ya”, begitu gurauku dengan polisi muda.
“Ah… Bunda bisa saja. Pak Guruh beruntung ya punya istri secantik ibu.”
“Terima kasih pak atas pujiannya, tapi saya boleh berangkat pak. Kasihan suamiku telah menantikan”, begitu sahuntuku sama polis muda.
“Oh… Silahkan bu, kalau bunda butuh sesuatu yang berhubungan dengan polisi silahkan hubungi saya bu”, sambil kasih secarik kertas berisikan nomor hp dia.

Akupun menerimanya dan langsung berangkat kekantor suamiku. Setiba dikantor suamiku, suamiku telah menantikan diruang tamu, sedang bincang–bincang dengan rekan kerjanya.

“Kok mami lama banget sich, kemana aja?”, tanya suamiku kepadaku.
“Maaf pa, tadi saya ketilang”, jawabku singkat.
“Kok mami tidak bilang, kan kelak bisa tidak membayar denda”, jawab suamiku.
“Gak persoalan pa, lagi pula mami yang salah.”

“Emang siapa yang tilang kamu ma?”, tanya suamiku.
“Dia namanya Randi (Bukan nama sebetulnya)”, begitu jawabku sama suamiku.
“Ha… Randi, mami tidak bilang kalau mami istipsu?”
“Bilang sich pa, tapi pas telah membayar denda, udahlah pa tidak usah dibahas lagi”, begitu aku meyakinkan suamiku biar tidak berkepanjangan.
“ya telah ayo pulang”, ajak suamiku.

Seusai suamiku pamit terhadap rekan–rekannya, langsung aku dan suamiku berboncengan menuju rumah. Keesokan harinya hari kamis tanggal tujuh Maret 2014, kebetulan aku tidak mengajar, sebab hari kamis tidak ada jam pelajaran yang saya ajarkan. Akhirnya aku dirumah sendiri sebab anak–anak sekolah dan suami kekantor yang ad Cuma pembantu.

Kurang lebih pukul 10 siang telepon rumah berdering. Aku pun lansung angkat teleponnya.

“Halo… Selamat pagi”, jawabku.
“Halo ma ini papa, tadi polisi yang menilang kamu kemarin datang kekantor minta maaf sama papa, dan mau ngembaliin uang denda kemarin”, kata suamiku ditelepon.
“Trus gimana pa?, ya udahlah pa tidak usah diusut lagi.”
“Aku tidak ngapain–ngapain kok, tadi dirinya sendiri yang datang kekantor dan minta maaf”, begitu jawab suamiku.
“Ya udahlah, terima aja uang dendanya, berakhir kan?”, akupun menjawab

“Sekarang dirinya menuju rumah kita, sebab aku bilang minta maaf aja langsung ma istipsu”, jawab suamiku.
“Ihh, ngapain pa?, kayak tidak lebih kerjaan aja?”, aku membalas perkataannya.
“Ya udah tidak persoalan, ntar dirinya cuma minta maaf kok. Dah ya ma, papa lagi kerja nich”, begitu kata suamiku.
“Ya udah pa, da…”, aku pun tutup teleponnya.

Selang tiga puluh menit ada kendaraan sepeda motor Honda Tiger datang, aku sedang melihat TV diruang keluarga.

“Permisi… Permisi…”, panggil seseorang dibalik pintu depan.
“Bi… Tolong buka pintu, ada tamu”, aku menyuruh pembantuku.
“Iya bu”, jawab pembantuku.
“Maaf mbak bu Ida ada?”, tanya seorang tamu tadi.
“Ada pak, tapi bapak siapa ya?”, Tanya kembali pembantuku.
“Oh ya, bilang saja saya Randi. Bunda dah tahu kok”, jawabnya.

Aku yang didalam ruang keluarga mendengar percakapannya, aku terkejut seusai yang datang merupakan Randi sang polisi muda yang tampan, tegap dan tinggi.

“Silahkan masuk pak”, pembantuku bersikap sopan terhadapnya.

Gak lama kemudian pembantuku datang.

“Bu ada yang cari ibu?”, kata pembantuku.
“Siapa bi?”, tanyaku pura–pura tidak tau.
“Randi bu, katanya bunda telah tau”, jawab pembantuku yang polos.
“Ya udah sana masak lagi”, begitu perintahku sama pembantuku.

Akupun berdiri menuju ruang tamu.

“Eh.. Pak Randi, ada apa ya pak? Apa tetap butuh syarat lagi untuk ditilang?”, kataku sedikit menyindir.
“Gak bu, jadi tidak enak nich. Saya hanya minta maaf bu”, jawab Randi.
“Ngapain minta maaf, kan saya yang salah dan kamu telah sesuai prosedur untuk menilang saya”, aku pun menjawab.
“Iya sich bu, tapi saya tidak enak saja”, Kembali dirinya mengatakan dengan nada rugi.
“Ya telah tidak usah dipikirkan lagi”, sahutku.
“Iya bu terimakasih”, jawabnya.

“Kok bapak tidak bertugas”, tanyaku.
“Saya mohon jangan panggil pak dong, panggil nama saja”, jawabnya.
“Oya maaf. Randi kok tidak tugas?”, tanyaku kembali.
“Saya kelak malam piket bu.”, jawabnya dengan polos.
“Oh… Jadi kesini intinya hanya minta maaf ya?”, tanyaku terhadap Randi.

“Iya bu, maaf bu kok sepi emang rumah sebesar ini dihuni siapa saja bu?”, tanya Randi.
“Oh… Anak–anak lagi sekolah, bapak dikantor, jadi dirumah cuma aku dan pembantuku, tapi kalau aku kerja ya cuma pembantuku”, jawabku jelas.
“Rumah sebesar ini cuman dihuni empat orang plus pesuruh bu?”, tanyanya kembali.
“Iya mang napa?”, tanyaku kembali.

Ku akui rumah kami terbukti besar bertingkat, kamar tidur ada 6, diatas dua dibawah tiga dan satu kamar pembantu. Untuk kamar atas khusus kamar aku dan suamiku dan satu kamar atas untuk kamar tamu. Anak–anakku punya kamar sendiri–sendiri dibawah.

“Gak apa – apa Cuma tanya aja bu”, begitu jawab Randi.

Pukul telah memperlihatkan pukul 11.00 WIB kami asik ngobrol. Diwaktu ngobrol asik pembantuku mengangkat minuman teh buat Randi dan aku.

BACA JUGA  Cerita Dewasa - Kesombongan

“Silahkan diminum Ran”, perintahku sama Randi.
“Iya bu, terimakasih”, jawabnya.

Kami pun menikmati teh yang dibangun oleh pembantuku. Dan tiba–tiba…

“Ibu cantik sekali”, kata Randi.
“Maaf.. Apa ran?”, aku pura–pura tidak dengar dan sedikit kaget.
“Iya bunda cantik sekali, pak Guruh beruntung punya istri kayak bunda yang cantik dan pinter”, katanya kembali memujiku.

“Terimakasih atas pujiannya, tapi aku telah berumur 35 tahun jadi dibandingkan dengan perempuan yang seusia kamu tentu lebih cantik, apa lagi aku bersuami dan punya anak lagi”, jawabku sambil menyakinkan kalau aku bersuami.

“Tapi bunda tetep cantik kok, mesikipun punya anak”, dirinya kembali memujiku.
“Terimakasih ya, tapi Randi jangan memuji terus, sebab tidak enak aja kedengaranya”, jawabku halus.
“Apakah saya salah bu, apabila kagum terhadap ibu”, dirinya mulai merayu lagi.
“Gak salah kok, Cuma tidak enak aja. Apa lagi aku dah bersuami dan anak–anakku dah beranjak dewasa”, jawabku terhadap Randi.

Dia berdiri dan duduk disamping kananku. Aku mulai merasa takut, aneh pokoknya telah tidak karuan perasaanku. Aku sedikit menggeser kekiri, dirinya mengikuti geser pula, akhirnya aku berdiri sebab aku merasa terlecehkan.

“Maaf ran, jangan begitu tidak enak sama pembantuku, apalagi aku dah bersuami”, aku mengatakan tegas.

Tapi dirinya ikut berdiri dan kedua tangannya memegang pundakku dan ditekan kebawah supaya aku kembali–kembali duduk disofa.

“Maaf bu, tapi saya benar–benar kagum terhadap ibu, bunda cantik bahkan kecantikan bunda mengalahkan semua wanita yang tetap berumur belasan tahun. Benar bu ini semua kejujuranku terhadap ibu, aku bisa saja memperoleh wanita lain tapi menurutuku mereka tidak hebat bagiku tapi bunda yang hebat hatiku”, katanya lugu, apakah dirinya jujur apa tidak tapi yang jelas telah lama suamiku tidak memujiku bahkan hampir tidak sempat memujiku.

“Maaf Ran aku dah tua, telah punya anak dan suami, aku telah berkeluarga dan aku merasa sangat berbahagia dengan keluargaku saat ini. Jadi kumohon jangan perbuat lagi”, pintaku terhadap Randi mesikipun tidak pungkiri aku merasa bahagia dipuji.

Randi mulai mengeluskan tangannya dirambuntuku lurus yang panjang sambil mengatakan:

“Ibu, aku tidak bermaksud merusak kebahagiaan ibu, tapi aku hanya mengatakan kalau aku suka sama bunda meski umurku lebih muda tujuh tahun dibawah ibu. Tapi menurutku bunda tetap cantik dan luar biasa.”

Dia mulai berani mendekap aku. Jantungku berdebar tidak karuan, aku bentrok tapi dirinya tetap tidak melepaskan pelukannya.

“cukup Randi, kamu jangan tidak lebih ajar gini dong”, gerutuku tetap dalam peluknya.
“Coba nikmati bu, jangan berpikiran bunda berselingkuh dari suami ibu, tapi berpikirlah bagaimana supaya ini terasa indah”, begitu katanya menyakinkanku.

Dilepas pelukannya dan dirinya memandangi wajahku. Dan kuakui dirinya anak yang tampan. Dan tanpa sadar dirinya telah mencium pipiku, dirinya melihatku dengan mata sayu lalu tiba-tiba dirinya mulai mencium pipiku kembali. Ku akui aku menikmati ciuman mesranya dipipiku.

Dia kembali memelukku, tapi ini apa yang kurasakan dirinya menjilati kupingku, terus menjilati leherku kembali lagi kekuping terus menerus, aku hanya diam terpaku, akhirnya aku mendesis lirih. Dan semacam kehilangan kontrol akupun membalas menjilati kuping. Randi membalas tidak kalah jilatannya. Napasku terengah engah tanda napsuku mulai naik. Nyatanya dirinya tahu aku telah terangsang dengan tingkahnya.

Tiba-tiba tangan kirinya dirinya taruh ke pahaku. Namun saat aku tidak menunjukkan reaksi, tangan Randi mulai mengelusi pahaku kemudian menaikkan elusannya ke peruntuku kemudian ke dadaku. Aku tepis kuat-kuat. Aku bisikkan supaya jangan tidak sopan padaku.

Dia tunjukkan celana dalamnya yang telah terdorong mencuat sebab tongkolnya yang ngaceng berat sambil telunjuknya menunjuk bibirnya supaya aku diam. Kemudian dirinya perosotkan celananya hingga tongkolnya yang lumayan gede dan ujung kepalanya yang merah berkilatan itu nampak tegak kaku mencuat dari rimbunan bulunya yang tetap halus tipis.

Aku kaget banget dengan ulah Randi ini. Yang aku takutkan kalau-kalau pembantuku mendengar, masuk ke ruang tamu dan melihat apa yang terjadi di ruang tamu ini. Bisa-bisa aku dianggap serong sementara suamiku tetap berada di kantor.

Aku bentrok untuk berdiri dan meninggalkan ruang tamu. Namun Randi lebih sigap dan kuat. Direnggutnya rambutku dengan kasar hingga aku nyaris terjatuh. Kemudian dengan paksa mukaku ditundukkan ke arah selangkangannya.

Dia arahkan tongkolnya ke mulutku. Dirinya maksudkan supaya aku mengulumnya. Tidak lebih ajar dan kebangetan banget, nih anak. Tahu bahwa ada pembantuku di dapur dirinya berani mencoba meperbuat macam ini padaku. Tapi aku tetap tidak mau.

Dengan lembut dirinya menidurkan aku disofa dan dengan lembut pula tanpa kata kata, dirinya membuka kancing bajuku dan dirinya menyentuh kedua bukit kembarku, aku mendesis desis. Dirinya lepas bukit kembarku dan berdiri sambil menutup celananya kembali yang sempat dikeluarkan penisnya. Dirinya mengatakan:

“Bu, kami kekamar ibu, dan suruh pesuruh bunda berangkat kemana gitu biar kami bahagia–bahagia tanpa ada yang menganggu…”

Aku diam terpaku dan tetap bimbang apakah aku menerima berselingkuh apa menolaknya, apa ini telah tergolong berselingkuh. Aku tetap terdiam sementara Randi menantikan jawabanku untuk menerima berselingkuh dengannya. Aku tetap berpikir apa aku wajib menampar muka Randi dan mengusirnya. Tapi jujur kuakui kalau perilaku Randi membikin aku terangsang dan ingin membikinku berselingkuh. Dan akhirnya..

“Bi.. Bibi..”, Aku terbuktigil pembantuku.

Pembantuku datang dengan lari–lari kecil dan menyahut panggilanku.

“Ada apa bu?”
“Bibi sekarang ke pasar beli buah buat persediaan anak–anak”, perintahku.

Kebetulan buah–buahan yang dikulkas telah habis.

“Tapi bu, saya sedang masak”, bantah pembantuku.
“ya telah tinggalkan saja, kelak sekalian mampir ke Rumah makan padang beli lauknya saja buat makan siang anak–anak”, perintahku kembali sama pembantuku.
“Baik bu”, jawab pembantuku.

“Oh ya sekalian jemput dwi ya, habis dari beli buah jemput Dwi”, perintahku lagi sama pembantuku. Dwi merupakan putraku ke dua kelas satu SMP, biasanya pulang jam dua siang. Anak pertamaku sebab kelas tiga jadi ada les tambahan.

“Baik bu”, jawab pembantuku.

Sambil ku beri uang belanja dan kunci motor aku sempat melirik Randi yang tersenyum–senyum padaku. Akupun belum begitu meresponnya. Pesuruh telah berangkat dan akhirnya tinggal aku dan Randi, sempat melihat jam memperlihatkan pukul 12. Dan kelak tidak lebih lebih jam 2.15 siang pembantuku bakal kembali bersama anakku, itu artinya aku tetap punya waktu 2jam untuk bersama Randi.

Tapi jujur aku tetap merasa bimbang apa wajib aku perbuat alias tidak, sebab aku merasa bahagia dengan keluargaku sekarang juga, namun tidak bisa kupungkiri aku telah merasa terangsang dengan perilaku Randi. Tiba–tiba Randi mengatakan.

“Bu, ayo keruang keluarga sambil nonton tv”, ajak Randi.

Akupun melangkah keruang keluarga dengan Randi, dan seusai hingga diruang keluarga, kami duduk di karpet depan tv yang tetap nasib. Tanpa basa basi, langsung saja dirinya merangkulku dan merobohkan aku dikarpet posisiku ditelentangkan, aku hanya protes,

“Rann… apa-apaan siih..”, katanya kami mau ngobrol saja kok begini…”

Dan sambil mencari kaitan BH di belakang tubuhku, dirinya menjawab saja,

“Sebetulnya… aku pengen bu…”

Seusai kaitan BH-ku terlepas, langsung saja BH-ku dibuka dan dijilat payudaraku dan dirinya menyedot-sedot puting susuku yang putih dan besar dan tanpa sadar aku mencoba memasukkan tangan kananku ke dalam celana Randi mencari cari penis yang sempat diperlihatkan kepadaku, namun sebab celananya agak sempit jadi aku kesusahan memasukkan tanganku dan langsung saja aku mengatakan entah sadar apa tidak sebab telah terlanjur berselingkuh:

BACA JUGA  Berita Hot - Perawan

“Ran, bukain celanamu, aku yoo.., kepingin… pegang punyamu”, pintaku.

Dan tanpa melepas puting susuku yang tetap dirinya sedot, dirinya mulai melepas celana dan celana dalamnya sekaligus jadi dirinya sekarang telah telanjang bulat dan penisnya yang setengah berdiri itu langsung saja kupegang dan segera saja aku berkomentar,

“Ran, kok tetap lembek.. Gak kayak tadi?”
“Coba saja di isap… tentu sebentar saja telah tegang, mau?”, tanya Randi.

Sambil memandangi wajahku, dan akupun mulai menjilatinya, toh aku juga sempat sama suamiku. Dirinya melepas isapan mulutnya di payudaraku dan bangun dan duduk di dekat kepalaku sambil sedikit dirinya memiringkan badanku kearahnya dan dengan tidak sabaran langsung saja batang penisnya yang tetap setengah berdiri kupegangi dan kepalanya ku jilat-jilat sebentar dan langsung dimasukkan ke dalam mulutku. Dirinya memutar badanku setengah tengkurap, aku segera saja memaju-mundurkan kepalaku jadi penisnya keluar masuk di mulutku.

“Aah.., ooh, Buuu… teruss… ooh… enaaknyaa, Bu.. oohh”, kata Randi sambil membelai rambut di kepalaku dan sesekali dirinya menjambak dan baru sebentar saja aku menghisap penis Randi, terasa penisnya telah tegang sekali.

Tiba-tiba saja penisnya dikeluarkan dari mulutku dan langsung dirinya mengatakan.

“Buuu…, isap.., lagii.., doong”, pintanya kepadaku.
Namun aku menjawab dengan sedikit meminta.
“Rann… tolong, punya saya juga…”

Nyatanya dirinya langsung mengerti apa yang aku mau dan langsung saja dirinya mengubah posisi dan dirinya menjatuhkan dirinya tiduran ke dekat kaki ku dan dirinya hebat celana dalamku turun dan melepas dari badanku.

Dengan perilakunya aku bergerak dan berganti posisi tidur di atas badan Randi jadi vaginaku cocok berada di mulut Randi, maka tanpa bersusah payah dirinya sibak bulu-bulu vaginaku yang menutupi bibir vaginaku dan seusai itu dirinya membuka bibir vaginaku dengan kedua jari tangannya dan dirinya menjulurkan lidahnya menusuk ke dalam vaginaku yang telah basah oleh cairan.

Ketika ujung lidahnya menyodok kecelah vaginaku, langsung saja ku menekan pantatku ke wajahnya jadi terasa dirinya susah bernafas dan langsung ku kocok-kocok penis Randi dengan jari tanganku.

Ketika lidahnya menjelajahi seluruh tahap vaginaku dan bibir vaginaku tetap dirinya pegangi, aku lalu menaik-turunkan pantatku dengan cepat dan aku merasa keenakan dijilati. Aku mendesah yang agak keras sebab terlalu nikmat.

“ooh… Ran, aahh teruus.. Ran, aduuh… enak.. Ran… Ran… ooh…”, desahku.

Dan sesekali clitorisku yang sedikit menonjol itu dan telah mulai terasa mengeras, dirinya hisap-hisap dengan mulutnya jadi desahan demi desahan keluar dari mulutku, “ooh… itu.., Rannn, enaak, Sayang”, desahku kenikmatan dengan perilaku Randi. Dan aku melepaskan pegangan dipenisnya Randi dan Aku menjatuhkan diri dari atas tubuhnya dan tidur telentang sambil terbuktigilnya.

“Rann, sayang, sini, Saya telah nnggak tahaan… ayoo… sini… Raann”, memintaku sama Randi sang polisi muda.

Dia segera saja bangun dan membalik badannya dan dirinya menaiki tubuhku dan aku ketika tubuhnya telah berada di atasku, aku membuka kakiku lebar-lebar dan dirinya tempatkan kakinya di antara kedua kakiku. Dengan nafas terengah engah dan mencoba memegang penisnya aku mengatakan,

“Raann.., cepat dong, masukin. Saya telah tidak tahan.”
“Tunggu sayang, biar Aku saja yang masukin sendiri”, kata Randi sambil memindahkan ke atas, tanganku yang tadi mencoba memegang penisnya namun rupanya aku akui telah tidak sabaran lalu kembali aku mengatakan.
“Rann, ayoh dong, cepetaan, dimasukiin, punyamu itu!”, aku memintanya kembali.

Dan tiba–tiba Randi memegang penisnya dan menggesek-gesekkan di belahan bibir vaginaku berbagai kali dan kemudian dirinya mulai menekan ke dalam dan,

“Blees”, terasa dengan mudahnya penisnya masuk ke dalam celah vaginaku dan aku terkaget bersamaan penis Randi masuk kedalam vaginaku.
“Aduh… Raan”, aku sambil mendekap Randi erat-erat.
“Sakit, sayang?”, tanya Randi.

Dan aku hanya menggelengkan kepalaku sedikit dan aku menciumi dikurang lebih telinga Randi aku pun berbisik,

“Enaak, Rann…”, aku mendesis.

Dia menciumi wajahku dan sesekali dirinya hisap bibirku sambil dirinya mengawali menggerakkan pantatnya naik turun pelan-pelan, aku mencengkram punggungnya Randi dengan keras. Dan aku mengatakan sambil menikmati goyangan pantat Randi.

“Ran, coba diamkan dulu pantatmu itu…”, pintaku sama Randi.

Ran pun menuruti saja permintaanku. Aku langsung mempermainkan otot-otot vagina kenikmatanku, dan Randi terasa penisnya semacam di pijat-pijat dan tersedot-sedot dan jepitan dan sedotan vaginaku terus lama terus kencang jadi penisnya terasa begitu nikmat dan akupun menikmatinya. Dan ternyaya Randi terlena keenakan.

“oohh… sshh… Bu… enaknya… ooh… terus Bu, aduuh, enaak!”, Randi merasa menikmati sedotan vaginaku.

Dan Randi telah tidak bisa tinggal diam saja, langsung pantatnya naik turun jadi penisnya keluar masuk celah vaginaku dan terdengar bunyi, “Crreett… crettt…”, dengan cara beraturan sesuai dengan gerakan penisnya keluar masuk vaginaku yang telah sangat basah dan becek.

“Rannn, cabut dulu punyamu, biar aku lap dulu punyaku sebentar”, kataku sama Randi.
“Biar saja Bu… nikmat begini kok”, sahutnya sambil meneruskan gerakan penisnya naik turun terus cepat dan aku tidak memperhatikan jawabannya sebab merasa kenikmatan yang sangat enak.

“ooh… sshh… aakk, aduuh, Raan, teruskan Rann, ooh..”, sambil mempercepat goyangan pinggulku dan kedua tanganku yang dipunggungnya rutin menekan-nekan disertai sesekali aku menyempitkan celah vaginaku jadi terasa penisnya terjepit-jepit dan aku menikmati faktor semacam ini.

“ooh.. Bu… sshh.. oohh.. enaak.., Buuu.. aku, aku telah nggak kuat, mau… keluarr, Bu…”, desahanknya yang telah tidak kuat lagi menahan keluarnya air maninya.
“Rann, ayoo… Ran aduuh, ooh… Aku juga, ayoo sekaraang, aakkrr.., Sayang”, dan dirinya melepas air maninya semuanya ke dalam vaginaku sambil dirinya menekan penisnya kuat-kuat dan aku pun mendekapnya dengan sekuat tenagaku.

Baru sekarang kuraih kenikmatan yang luar biasa. Sungguh aku merasa nikmat, meski aku merasa bersalah terhadap keluargaku. Dirinya terkapar di atas badanku dengan nafas ngos-ngosan demikian juga dengan nafasku yang sangat cepat. Seusai nafas kami mulai mereda, lalu dirinya mengatakan,

“Bu, aku cabut ya punyaku”, dan sebelum dirinya menghabiskan perkataannya, aku cengkeram punggungnya dengan kedua tanganku dan aku mengatakan.
“Jangaan duluu, Rann, Aku tetap ingin… punyamu tetap ada di dalam.”

Dia pun menuruti kata–kataku. Seusai agak lama dalam vaginaku, dikeluarkan penisnya dari vaginaku. Kamipun merapikan diri. Seusai kulihat jam nyatanya menunjukkan pukul 13.15, Randi pun berpamitan bakal pulang sambil melumat bibirku. Aku pun membalas ciuman mulutnya.

“Terimakasih bu, aku sangat puas”, kata Randi berbisik dikupingku.

Aku hanya diam tidak menjawab, Randi pun langsung keluar rumah dan pergi. Aku merasa aneh dengan diriku, aku telah berselingkuh dari suamiku dan keluargaku tapi hati kecilku meras bahagia dengan kejadian ini.

Seusai kejadian ini aku merasa bersalah dengan keluargaku, aku mencoba untuk membenahi sikapku. Tapi setiap malam aku merasa kangen dengan Randi dan ingin berselingkuh. Bahkan saat berhubungan dengan suamiku aku membayangkan sedang berselingkuh dengan Randi yang sangat lihai membikin aku mudah terangsang.

Aku dan Randi pun berselingkuh lagi dengan mekegunaaankan hari kamis dimana aku libur kerja dan dirinya piket malam hari. Hingga sekarang aku dan Randi tetap berselingkuh, sesekali kami berselingkuh melewati phone sex, alias sms sex.

author
No Response

Comments are closed.