Judi Bola

Cerita Seks Dengan Adik Kandung Cewekku

1159 views
Casino Uang Asli

Sedarah – Sebelum saya ceritakan kisah-kisah nyata yg terjadi di nasibku, sebelumnya saya perkenalkan dulu. Saya lahir di Jakarta, Sebuahhari saya diberi berita oleh pacar saya (Wiwi umur 26) yg di Jakarta, bahwa dirinya mau datang bersama adiknya (Irene umur 22).

Seusai kedatangannya, mereka menginap di kontrakanku (kamar tamu). Namun Wiwi tidak bisa lama, sebab dirinya hanya diberi ijin oleh kantornya 3 hari. Selagi 3 hari saya dan Wiwi rutin ngumpet-ngumpet dari cicinya untuk bermesraan, dan sialnya kami hanya bisa meperbuat cumbuan dan hubungan sex 1X (kami dulu telah biasa meperbuat cumbuan sewaktu saya tingal di Jakarta), sebab peluang untuk ber-cumbuan saat ini sulit sekali.

Seusai Wiwi pulang, tinggal saya dan Irine yg tetap mau liburan di bali. Pada hari minggu saya ajak dirinya jalan ke beberapa tempat wisata, pulangnya dirinya langsung ingin istirahat sebab kelelahan. Sebab saya belum merasa ngantuk, saya ke ruangan tamu untuk nonton TV, sedangkan dirinya masuk kamar tidur tamu untuk istirahat.

Seusai agenda yg saya sukai berakhir, saya menonton jam, nyatanya telah jam 1 pagi, tiba-tiba timbul ide isengku untuk memasuki kamar tidur Irene, dengan perlahan-lahan saya berlangsung mendekati pintu kamarnya, nyatanya tidak dikunci, saya masuk dan menonton Irene telentang dengan kedua lengan dan paha terbuka,

saya langsung mengambil tali plastik dan perlahan-lahan saya melucuti pakaiannya semua, mungkin sebab dirinya terlalu lelah jadi tidurnya sangat nyenyak hingga tidak tahu apa yg sedang saya perbuat, seusai semua pakaiannya kubuka, saya langsung mengikat lengan dan kakinya ke sudut-sudut ranjang.

Tiba-tiba dirinya terbangun, dan terkejut sebab tubuhnya telah telanjang polos dan terbelit di ranjang. “Ko lepasin saya”, suaranya gemetaran sebab shock. “Cepat lepasin Ko!” Irene mengulangi perintahnya, hari ini lebih keras suaranya.

Tubuh telanjangnya telah mambiusku. Aku segera mencopot celana dan celana dalamku dengan cepat. “Ko!” Irene memekik. “Mau ngapain kamu?” Irene terkesiap menonton batang kemaluanku yang telah berdiri tegak. Kusentuh payudaranya dengan kedua tanganku, rasanya dingin bagaikan seonggok daging.

“Koko gila luu yah!” Aku merasakan sensasi aneh menonton payudara dan liang kemaluan adik pacarku ini. Jelas beda dengan waktu-waktu dulu kalau mengintip dirinya ganti baju di kamarnya. Kini aku menontonnya dengan tutorial yang tidak sama. “Koko, gua khan adik Wiwi!” Aku menyentuh liang kemaluannya dengan tanganku, lalu menjilatinya.

Seusai puas meperbuat cumbuan segera kuletakkan batang kemaluanku di gerbang liang kemaluan Irene. “Ko jangaan!” dirinya memohon-mohon padaku. “Diam.. cerewet!” aku menjawab dengan sembarangan. Sekali batang kemaluanku kudorong ke depan, tubuhku telah menjadi satu dengannya.

“Iiih.. shiit!” dirinya mengumpat tapi ada nada kegelian dari suaranya itu. Aku menggoyangkan pinggangku dengan cara liar hingga batang kemaluanku mengocok-kocok liang kemaluannya. “Ahh.. shiit! ah shiit! Ko stop!” Terus dirinya memaki dan mengumpatku dengan ekspresi judesnya itu, terus terangsang aku jadinya.

Sambil memompa liang kemaluannya aku menghisap puting-puting payudaranya yang agak berwarna pink itu. “Mmmh.. udah jangan Ko!” Irene tetap berteriak-teriak memintaku berhenti. “Lu diam aja jangan tidak sedikit ngomong”, ujarku cuek. “Ohh shiit!” ujarnya mengumpat. Dirinya menatapku dengan tatapan yang bercampur antara kemarahan dan kegelian yang ditahan. Sejenak aku menghentikan gerakanku. Kasihan juga aku menontonnya terbelit semacam ini.

Aku berusia 28 thn, kerja disalah satu perusahaan swasta sebagai auditor pembukuan dan keuangan, saya ditugasi untuk mengawasi cabang denpasar, jadi saya tinggal disana menempati rumah kontrakan.

BACA JUGA  Cerita Seks Dipuaskan Oleh Bibiku

Dengan memakai cutter yang tergeletak di meja samping ranjang aku memotong tali yang mengikat kedua kakinya. Begitu kedua kakinya terlepas dirinya pernah berontak. Tapi apa dayanya dengan posisi telentang dengan tangan tetap terikat.

Belum lagi posisiku yang telah mantap di antara kedua kakinya membikin dirinya hanya bisa meronta-ronta dan kakinya menendang-nendang tanpa hasil. “Aaahh Ko stop dong.. udah Ko.. gue khan adik Wiwi”, dirinya memohon lagi tapi hari ini suaranya tidak kasar lagi dan terdengar mulai berdesah sebab geli.

Nafasnya pun mulai memburu. Aku menjilati lehernya dirinya melengos ke kiri dan ke kanan tapi wajahnya mulai tidak sanggup menutupi rasa geli dan nikmat yang kuciptakan. ” Aduhh sshh Ko udah doong.. hh.. ssh!” suaranya memohon tapi makin terdengar mendesah lirih. Kedua kakinya tetap meronta menendang-nendang tapi kian lemah dan tendangannya bukan sebab bentrok melainkan menahan rasa geli dan nikmat.

Aku menaikkan tempo dalam memompa jadi tubuhnya terus bergetar setiap kali batang kemaluanku menusuk ke dalam liang kemaluannya yang hangat berulir dan kian basah oleh cairan kenikmatannya yang makin membanjir itu.

Hari ini suara nafas Irene kian berat dan memburu, “Uh.. uh.. uhhffssh.. shiit Koo.. agh uuffsshh u.. uhh!” Wajahnya terus memerah, sesekali dirinya memejamkan matanya jadi kedua alisnya semacam berjumpa. Tapi tiap kali dirinya begitu alias saat dirinya merintih nikmat, rutin wajahnya dipalingkan dariku. Tentu dirinya malu padaku.

Liang kemaluannya mulai mengeras semacam memijit batang kemaluanku. Pantatnya mulai bergerak naik turun mengimbangi gerakan batang kemaluanku keluar masuk liang kenikmatannya yang telah basah total. Saat itu aku berbisik “Gimana, lu mau udahan?” Aku menggodanya.

Sambil mengatur pernafasan dan dengan ekspresi yang sengaja dibangun serius, dirinya mengatakan, “I.. iiya.. udah.. han yah Ko”, suaranya dibangun setegas mungkin tapi matanya yang telah sangat sayu itu tidak bisa berbohong kalau dirinya telah sangat menikmati permainanku ini.

“Masa?” godaku lagi sambil tetap batang kemaluanku memompa liang kemaluannya yang terus basah hingga mengeluarkan suara agak berdecak-decak. “Bener nih lu mau udahan nglakuin cumbuan?” godaku lagi. Tampak wajahnya yang merah padam penuh dengan peluh, nafasnya berat terasa menerpa wajahku. “Jawab dong, mau udahan gak cumbuan-nya?” aku menggodanya lagi sambil tetap menghujamkan batang kemaluanku ke liang kemaluannya.

Sadar aku telah berkali-kali bertanya itu, dirinya dengan gugup berusaha luar biasa nafas panjang dan menggigit bibir tahap bawahnya berusaha mengendalikan nafasnya yang telah ngos-ngosan dan menjawab, “Mmm.. iya.. hmm.” Aku tiba-tiba menghentikan gerakan naik turunku yang terus cepat tadi. Nyatanya gerakan pantatnya tetap naik turun, tidak sanggup dihentikannya.

Soalnya liang kemaluannya telah terus berdenyut dan menggigit batang kemaluanku. “Ehmm!” Irene terkejut hingga mengerang pendek tapi tubuhnya dengan cara otomatis tetap menagih dengan gerakan pantatnya naik turun.

Ketika aku bergerak semacam luar biasa batang kemaluanku keluar dari liang kemaluannya, dengan cara refleks tanpa disadari olehnya, kedua kakinya yang tadinya menendang-nendang pelan, tiba-tiba disilangkan jadi melingkar di pinggangku semacam tidak ingin batang kemaluanku lepas dari celah kemaluannya.

“Lho katanya udahan”, kata-kataku membikin Irene tidak sanggup berpura-pura lagi.

Mukanya mendadak merah padam dan setengah tersipu dirinya berbisik, “Ah shiit Koo.. uhh.. uhh.. swear enak banget.. pleasee dong terusiin yeeass!” belum berakhir ia mengatakan aku langsung kembali menggenjotnya jadi ia langsung melenguh panjang.

BACA JUGA  Cerita Dewasa - Obat Luka di Memek Adikku

Rupanya perasaan malunya telah ditelan kenikmatan yang sengaja kuberbagi kepadanya. “Ah iya.. iiya.. di situ mmhh aah!” tanpa sungkan-sungkan lagi dirinya mengekspresikan kenikmatannya. Selagi 15 menit berikutnya aku dan dirinya tetap bertempur sengit. Tiga kali dirinya orgasme dan yang terbaru betul-betul dahsyat bagusa bersamaan dengan saat aku ejakulasi.

Spermaku menyemprot kencang sekali berjumpa dengan semburan-semburan cairan kenikmatannya yang membanjir. Irine tentu menonton wajahku yang menyeringai sambil tersenyum puas. Senyum kemenangan. Aku melepaskan ikatannya. Dirinya kemudian duduk di atas kasur. Sesaat dirinya semacam berusaha menyatukan pikirannya.

“Huuhh, kalian luar biasa banget sih Ko, tidak jarang yach meperbuat dengan Wiwi”
“Enggak juga koq!”
“Alah, sama setiap cewek yang kalian tidurin juga jawabannya tentu sama”
“Keperawanan lu kapan diambil?” tanyaku

“Sewaktu pacarku ingin berangkat ke Amerika untuk kuliah, saya hadiahkan sebagai hadiah perpisahan”

Kemudian dirinya bangkit dengan tubuh yg lemah ngeloyor ke kamar mandi, seusai berakhir bersih-bersih Irene kembali lagi ke kamar. Di depan pintu kamar mandi kusergap dia, kuangkat satu pahanya dan kutusuk sambil berdiri. “Aduh kok ganas banget sih Lu!” katanya setengah membentak.

Aku tidak mau tahu, kudorong dirinya ke dinding kuhajar terus vaginanya dengan rudalku. Mulutnya kusumbat, kulumat dalam-dalam. Seusai Irene mulai terdengar lenguhannya, kugendong dirinya sambil pautan penisku tetap dipertahankan. Kubawa dirinya ke meja, kuletakkan pantatnya di atas meja itu. Kini aku bisa lebih leluasa bersenggama dengan dirinya sambil menikmati payudaranya.

Sambil kuayun, mulutku dengan sistematis menjelajah bukit di dadanya, dan semacam biasanya, dirinya tekan belakang kepalaku ke dadanya, dan aku turuti, habis emang nikmat dan nikmat banget. “aahh.. sshh.. oohh.. uugghh.. mmhh”, Irene terus meracau.

Bosen dengan posisi begitu kucabut penisku dan kusuruh Irene menungging. Sambil kedua tangannya memegang bibir meja. Dalam keadaan menungging begitu Irene kelihatan lebih aduhai! Bongkahan pantatnya yang kuning dan mulus itu yang bikin aku tidak tahan. Kupegang penisku dan langsung kuarahkan ke vaginanya. Kugesekkan ke clitorisnya, dan dirinya mulai mengerang nikmat. Tidak sabar kutusukkan sekaligus.

Langsung kukayuh, dan dalam posisi ini Irene bisa lebih aktif memberbagi perlawanan, bahkan sangat sengit. “Aahh Koo Akuu mmoo.. kkeelluuarr laggi..” racaunya. Irene goyangannya menggila dan tidak lama tangan kanannya menggapai ke belakang, dirinya tarik pantatku agar menusuk lebih keras lagi.

Kulayani dia, sementara aku sendiri terbukti terasa telah dekat. Irene mengerang dengan sangat keras sambil menjepit penisku dengan kedua pahanya. Saya tetap dengan aksiku. Kuraih badannya yang kelihatan telah mulai mengendur.

Kupeluk dari belakang, kutaruh tanganku di bawah payudaranya, dengan agak kasar kuurut payudaranya dari bawah ke atas dan kuremas dengan keras. “Eengghh.. oohh.. ohh.. aahh”, tidak lama seusai itu bendunganku jebol, kutusuk keras banget, dan spermaku menyemprot lima kali di dalam.

Dengan gontai kuiring Irene kembali ke ranjang, sambil kukasih cumbuan cumbuan kecil sambil kami tiduran. Dan ketika kulihat jam di dinding memperlihatkan jam 02.07. Wah lumayan, tetap ada waktu buat satu babak lagi, kupikir.

“rine, vagina dan permainan kalian ok banget!” pujiku.
“Makasih juga ya Ko, kalian juga hebat”, sebuahpujian yang biasa kuterima!

Seusai itu kami saling berjanji untuk tidak memberi tahu cici dan pacarnya yg sedang kuliah di Amerika. Selanjutnya kami rutin meperbuat cumbuan setiap hari hingga dirinya pulang ke Jakarta.

author
No Response

Comments are closed.